Cinta Berakhir di Ujung Taring

0
illustrasi
illustrasi

Oleh : Arwan D.Awing

Andi seperti biasanya melakukan pekerjaannya sebagai pendamping desa disalah satu desa terpencil dikabupaten Mamuju. Pagi-pagi dia sudah bergegas menuju kantor desa yang jaraknya hanya 100 meter dari tempat dia menginap. Hari itu merupakan hari pertama dia bekerja, semenjak dia menyelesaikan pendidikannya disalah satu perguruan tinggi swasta dikota Makassar. Hampir dua tahun dia menganggur, hingga dia melihat lowongan pendamping desa di web yang dikeluarkan oleh Kementerian desa tertinggal. Didesa itu, Andi tinggal di rumah induk semang yang bernama Emak Ros. Emak Ros adalah seorang janda tua yang sebatang kara, yang masih kerabat dekat dengan Kepala Desa. Penghasilannya didapatkan dari sumbangan warga desa yang dikumpulkan oleh kepala desa sendiri. Rumah yang ditempatinya merupakan tanah desa yang dibangun untuk keperluan tamu yang datang ke desa.

“Tidak ada signal di sini” gumamnya sembari mengutak atik android yang dikeluarkan dari ranselnya yang masih terlihat baru.

Laptop, buku kecil serta pena dia siapkan untuk memulai aktifitasnya pagi itu, tak lupa pula dia menyapukan gel pada rambutnya yang agak ikal serta menyemprotkan farfum beraroma bunga pada baju flanelnya.

Hari itu dia terlihat bersemangat sekali, maklumlah pertama kali beraktifitas. Setiap orang yang dia lewati disapanya dengan sopan.

“Tabe, selamat pagi, pak” sapanya dengan sedikit membungkukkan badan ketika berpapasan dengan salah satu bapak yang lagi memanggul pacul dipundaknya.

“Pagi juga, Ndi” jawab bapak itu seraya tersenyum memperlihatkan giginya yang agak kecoklatan akibat mengunyah tembakau.

Andi tiba pagi sekali di kantor desa, kepala desa sudah ada lebih dulu dis ana mempersiapkan kursi-kursi yang akan dipakai untuk pertemuan desa antara warga dengan pendamping desa serta tokoh masyarakat di desa itu.

“Assalamu alaikum, pak desa” sapa Andi memasuki kantor desa,

“Walaikum salam, pak Andi” balas pak Desa seraya membalikkan tubuhnya menyambut kedatangan Andi.

Mereka kemudian bersalaman, kemudian pak Kades membimbing Andi masuk ke ruangan sembari memperkenalkannya kepada para stafnya.

“Ini Pak Andi Heryanto, pendamping desa kita” kata pak Kades memperkenalkan Andi.

“Ini namanya Pak Muchtar, sekertaris desa kita di sini, yang sehari-harinya akan mendampingi pak Andi” ujar pak Desa.

“salam kenal Pak Muchtar, semoga kita dapat bekerja sama dengan baik” sapa Andi seraya berjabat tangan kearah Pak Muchtar,

“Sama-sama, pak Andi” jawab Muchtar.

“Kalo ini namanya Cici, Keponakannya Pak Muchtar, yang bantu-bantu kita disini” kata Pak Kades memperkenalkan seorang stafnya yang kebetulan tamatan SMA. Karena didesa itu cukup sulit mendapatkan lulusan SMA, yang paling tinggi hanya lulusan SD. Itupun hanya dapat hitungan jari saja.

Cici tampak tersipu malu menyodorkan tangannya kearah Andi, yang disambut hangat oleh genggaman Andi yang agak dilebihkan, maklumlah karena kali ini dihadapinya adalah wanita yang cukup manis dimatamya.

“Saya Andi” sapa Andi

“Saya Cici” balas Cici seraya menutup mulutnya dengan tangannya karena agak gugup melihat pendamping desanya yang cukup keren dibanding lelaki yang pernah dikenalnya sewaktu sekolah dulu di kota kabupaten.

Tak lama berselang, kira-kira pukul 09.00 pagi, seluruh undangan sudah hadir dan pertemuanpun dimulai. Hamper seluruh tokoh masyarakat hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka membahas seluruh program desa yang akan dijalankan didesa itu. Sesekali mata Cici melirik kearah Andi yang sedari tadi diam mendengarkan arahan dari bapak Kades dengan khidmat. Cici yang diplot sebagai notulen rapat, tampak tak begitu tertarik dengan arahan pak kades, karena pikirannya, matanya bahkan mungkin hatinya sudah terampas oleh sosok Andi Heryanto sejak perkenalan beberapa saat yang lalu. Sejak rapat dimulai setengah jam yang lalu, hanya satu goresan saja yang tertulis dicatatannya, yaitu Andi Heryanto, SH sebagai pembicara utama. Nama Andi Heryanto, SH ditebali berulang-ulang dengan pulpen, sesekali dia menggigit ujung pulpen kemudian menebali huruf yang itu-itu lagi. Cici tak pernah merasakan hal ini sebelumnya, padahal silih berganti pendamping desa dan penyuluh desa hadir didesanya, namun tak pernah ada rasa seperti ini. Keningnya berkeringat, tangan dan kakinya dingin bibirnya mungilnya kadang tersimpul senyuman sendiri. Matanya ingin terus menatap kearah Andi akan tetapi kepalanya terasa berat bergerak, akibat deguban jantungnya yang berdetak kencang, pabila ingin memandangi wajah Andi, Cici telah jatuh cinta.

Lain halnya dengan Andi sejak dia tampil sebagai pembicara, matanya terlihat liar, seolah ada yang dicarinya di luar ruangan. Sesekali dia menoleh ke arah jendela namun yang dicarinya tampak tidak ada. Dia tak memperhatikan lagi ada sosok dua mata mungil yang sedari tadi menatapnya yang seakan-akan minta agar tatapannya dibalas oleh andi. Andi tak memperhatikan lagi jalannya rapat, di hatinya ingin cepat-cepat selesai, rasa ingin tahu dan penasarannya yang membuat dia ingin segera cepat-cepat meninggalkan tempat duduknya.

“Tabe, Pak Kades, saya permisi keluar dulu sebentar” pinta Andi kepada Pak Kades

“Iya, silahkan” jawab pak Kades.

Andi kemudian bergegas keluar ruangan, dia Nampak menoleh ke kiri dan ke kanan seolah-olah mencari sesuatu.

“Hmm, mana dia yah, kok tidak ada”gumamnya

“Cari siapa, kak, ehh pak Andi” tegur Cici tiba-tiba di belakang Andi. Andi tersentak kaget karena tak disadarinya bahwa Cici sedari tadi memperhatikan tingkah lakunya.

“Eh, kamu, tid…tidak apa-apa, cuma cari udara segar saja, kok” jawab Andi agak kaku.

“Ayo, kita masuk saja, rapatnya sudah mau kelar” kata Andi kembali sembari menyodorkan tangannya meminta Cici ikut masuk ke dalam ruangan. Melihat ini, Cici merasa tersanjung, bak putri seorang raja saja rasanya diperlakukan seperti itu oleh Andi. Belum pernah rasanya Cici menemukan pemuda yang sesopan Andi itu. Cici memasuki ruangan rasanya seperti tidak menginjak tanah saja, kakinya terasa terbang, langkah begitu ringan terasa. Apalagi ketika Andi menyentuh pundaknya mengajak masuk ke ruangan, wadduh.. terasa hatinya disirami air yang begitu sejuk, perasaannya berbunga-bunga, serasa dirinya berada di taman yang dipenuhi bunga saja.

Rapat selesai pukul 12.00 siang, setelah menyantap hidangan yang telah disiapkan, Andi berpamitan untuk pulang ke rumah yang telah disediakan oleh perangkat desa. Dia pulang begitu lunglai dan penuh tanda tanya.

“Siapa wanita itu….? Dimana dia…?” benak Andi.

Andi berjalan, hingga tak sadar telah sampai di rumah induk semangnya.

“Assalamu alaikum, Mak” salam Andi memasuki rumah.

“Walaikum salam, nak” jawab Emak Ros.

“Maak, kita kenal cewek yang wajah cukup cantik, kulitnya putih, matanya agak sipit, cuma anehnya di dahinya ada bekas goresan kecil di atas alis sebelah kanannya” jelas Andi.

‘Tidak ada nak cewek seperti itu disini…..hmmm ta.. ta… tapi kalo itu, wadduhh……. janganmi nak” jawab Emak Ros dengan nada yang agak takut.

“Kenapa mak…? Siapakah Dia…? Di mana rumahnya…? Cecar Andi kepada Emak Ros.

“Janganmi dibahas, yang jelas tidak boleh” tegas Emak Ros.

“Kenapa mak..? Kata Andi penuh tanya.

“Pokoknya tidak boleh, pamali” tegas Emak dengan nada marah sembari berlalu meninggalkan Andi yang masih penuh tanda tanya.

Malampun menjelang, Andi merebahkan tubuhnya dipembaringan, tangannya dijadikan tumpuan untuk merebahkan kepalanya, pikirannya menerawang jauh melintasi dimensi logika, yang terbayang dipikirannya hanya wanita aneh itu, yah…. Hanya wanita itu. Entah mengapa Andi sangat tertarik dengan wanita itu, walaupun dia begitu cantik tapi dari cara berpakaiannya yang agak kelihatan lusuh tentu tak sebanding dengan wanita yang biasa dikenal Andi.

Di tempat yang lain, Cicipun merasakan hal yang sama, pikirannya terbang kemana-mana. Suara Andi yang agak berat begitu terngiang-ngiang di telinganya, gerak gerik Andi yang begitu santun serasa merobek benteng kepongahannya sebagai wanita. Dia begitu jatuh cinta kepada Andi, wajah pemuda itu seakan menodai pandangannya selama ini. Matanya, suaranya, tingkah lakunya, membuat mata Cici enggan untuk terpejam.

“Kak Andi… Cici cinta Kakak”ucap Cici lirih sembari meremas ujung guling yang dipeluknya.

Asyik dalam lamunannya sendiri, tiba-tiba Cici dikagetkan oleh suara yang begitu diharapkannya.

“Ci..ci… cici” panggil suara itu.

“Kak Andi….”pikirnya

Cici kemudian beranjak dari tempat tidur, dan segera membuka jendela kamarnya. Sesosok tubuh lelaki yang mirip Andi melintas di hadapannya memasuk hutan kecil yang ada di belakang rumahnya. Tanpa pikir panjang, Cici melompat keluar jendela mengikuti pemuda tadi. Segala onak dan duri tak diperhatikannya lagi, seluruh tubuh dan jiwanya sudah dipasrahkan untuk lelaki yang baru dikenalnya itu. Tepat di atas batu, di bawah pohon perdu hutan yang tak terlalu besar, pemuda itu telah menunggu Cici dengan tangan menyambut kedatangan Cici.

“Sini mendekat Cici, kalo kamu menyanyangiku” panggil pemuda itu.

“Mendengar panggilan itu, Cici tanpa pikir panjang lagi dia berlari kecil mendekap pemuda itu, dengan sedikit linangan airmata tanda haru cintanya diterima oleh Andi.

“Kak Andi……” ucap Cici lirih berlari mendekap pemuda itu. Dia memeluk erat seakan tak ingin melepaskan diciuminya seluruh dada bidang yang ada didekapanya ambil berucap penuh cinta. “Cici cinta Kakak… Cici sayang Kakak,…I love you kak” ucap Cici bertubi-tubi.

Merekapun bercumbu mesra layaknya dua sejoli yang haus akan kasih dan belaian. Cumbuan mereka disambut dengan lolongan anjing hutan bersahut-sahutan tanpa henti. Hingga suatu saat juluran lidah pemuda itu membasahi leher jenjang dari Cici. Bergidik rasanya Cici diperlakukan seperti itu, akan tetapi karena cintanya yang begitu besar semua itu tak dihiraukan lagi. Baju yang dipakai oleh cici sudah robek sana sini akibat nafsu dari pemuda itu tak juga diperhatikan. Hingga pada suatu saat cumbuan mesra lelaki itu menjadi teriakan aneh dimulut Cici.

“Eh…ehm.. Ahhhhhhh” teriak Cici meronta ronta kesakitan kemudian terdiam. Sepasang taring besar telah menancap di lehernya yang jenjang, darah tak berhenti mengucur dari lehernya. Seorang pemuda yang mencumbui cici itu berdiri tegap terdiam disisi tubuh Cici yang tergeletak. Pemuda itu adalah Andi yang nampak kebingungan, matanya terlihat nanar, yang diingatnya adalah panggilan wanita yang dilihatnya pagi tadi dikantor desa. Entah mengapa dia tiba-tiba berada didalam hutan berdiri tegap disamping tubuh Cici yang mulai membiru. Entah dari mana asalnya, dibelakang Andi berdiri sepasang manusia yang wanitanya cukup dia kenali. Andi menatap marah kearah wanita itu, dia menunjuk tajam kearah wanita itu seakan menyalahkan semua peristiwa itu.

“Sialan kau, perempuan jalang” bentak Andi menunjuk wajah wanita itu.

“Hi..hi..hi..hi…hi… hi..” tawa wanita itu membalas bentakan Andi, disambung oleh tawa sang pria.

Belum habis tawanya, serta merta tubuh keduanya ditumbuhi bulu yang lebat dan wajahnya keluar moncong layaknya serigala. Tak lama berselang, keduanya pun berubah bentuk menjadi sepasang Serigala. Melihat itu, Andi teriak histeris tak karuan, pikirannya berkecamuk menjadi satu, antara marah, takut, dan juga jijik menyaksikan itu semua.

Kedua Serigala itu kemudian hilang di balik gelapnya malam. Tinggallah Andi berlari kesana kemari tak tentu arah sembari memegangi kepalanya ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here