Jin Dimas Kanjeng Ternyata Tak Mampu Gandakan Uang

0
Jin Dimas Kanjeng Ternyata Tak Mampu Gandakan Uang
Jin Dimas Kanjeng Ternyata Tak Mampu Gandakan Uang

MITOS -Jin Dimas Kanjeng Ternyata Tak Mampu Gandakan Uang- Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang melantik dirinya sebagai Raja yang bergelar Sri Raja Prabu Rajasa Nagara, pada 11 Januari 2016 baru lalu yang konon disaksikan oleh Rara-raja Nusantara, akhirnya kena batunya. Pria yang punya padepokan seluas 7 hektar ini ditangkap petugas gabungan Polres Probolinggo dan Polda Jatim pada Kamis, 22 September 2016.

Dia tersangka otak pembunuhan anak buahnya, Ismail Hidayat dan Abdul Gani. Dimas juga tersangka penipuan bermodus penggandaan uang. Korbannya puluhan ribu orang dengan total kerugian korban triliunan rupiah.

Jin yang diperintah Dimas gandakan uang, ternyata baru disemprot gas air mata polisi, sudah lari terbirit-birit, apalagi jika Dimas berharap pasukan jinnya itu bisa gandakan uang triliunan rupiah. Agaknya dalam praktek penggandaan uang Dimas ini, belum cukup mampu dia lakukan dengan baik, karena praktek penggandaan uang yang menggunakan jasa jin dengan persyarayatan yang diperlukan, belum mampu dilengkapi. Faktanya, uang yang digandakan Dimas dalam kotak seperti yang disaksikan DR Marwah Daud Ibrahim pendiri ICMI dan anggota MUI itu, justeru lenyap seketika. Dan karena itulah, Dimas mencari cara lain memengaruhi orang agar menyetorkan uangnya. Dimas memperagakan seolah-olah ribuan uang Rp100.000 muncul dari tangannya setelah tangan kanannya meraba-raba punggungnya, padahal uang itu dia ambil dari kantong besar di balik jubahnya. Uang yang dia ambil itu diduga kuat adalah uang setoran dari para santrinya. Orang yang diterima jadi santri di padepokan Dimas memang adalah mereka yang menyetor uang untuk digandakan.

Pengakuan Marwah Daud

Marwah Daud Ibrahim menyatakan yakin Dimas Kanjeng memiliki kemampuan menarik uang. Marwah yang mengaku sebagai santri Dimas Kanjeng ini juga mendorong agar penarikan uang dibuktikan di depan publik.

“Saya menyarankan ke penasihat hukum sebaiknya diberi kesempatan di depan wartawan atau polisi. Ini agar tidak disebut sebagai penipuan,” jelas Marwah, Rabu (28/9/2016).

Marwah mengungkapkan, dia tiga kali melihat kemampuan Dimas Kanjeng menghadirkan uang. Yang pertama uang keluar dari tangannya, kedua uang muncul di peti yang awalnya kosong, dan ketiga uang bertumpuk di ruangan yang sebelumnya kosong.

“Demi rasul saya melihat sendiri. Dan di dalam ruangan kosong kemudian di kunci lalu beliau ditutup, nggak ada orang lain dan beberapa lama kemudian ada uang,” jelas dia.

Ada juga ketika sedang istigosah, tiba-tiba Dimas Kanjeng menyampaikan kalau ada uang, lalu ada di peti. Namun memang uang ini tidak bisa digunakan sepenuhnya, hanya digunakan terbatas. Uang yang menumpuk itu juga kemudian raib lagi.

“Jadi memang dikatakan belum waktunya,” tegas pendiri ICMI ini yang juga aktif di Habibie Center. Kata Marwah, awalnya dia tidak percaya, tapi dia lihat dengan mata kepala sendiri. Kata dia, dia orangnya rasional, ya tapi kalau Allah berkehendak,” tegas dia Marwah

Dimas dikenal suka berburu ilmu di saat muda. Ilmu itulah yang salah satunya digunakannya untuk mendirikan Padepokan.  Dimas lahir 4 April 1970 di Probolinggo dari pasangan Mustain (purnawirawan Polri yang pernah menjabat Kapolsek) dan Angatri. Ia merupakan anak ke-5 dari 6 bersaudara. Dimas Kanjeng menghabiskan masa kecilnya di rumahnya di Jalan Mayjen Widodo, Desa Wangkal, Kecamatan Gading atau di sebelah timur Pasar Wangkal.

Ayah Dimas Kanjeng, Mustain, adalah seorang polisi dan pernah menjabat sebagai Kapolsek Gading. Kedua orangtua Dimas Kanjeng sudah almarhum. Mustain meninggal pada 1992, sementara Angatri pada 2002. Dimas Kanjeng empat bersaudara, yang lain tinggal di Jember. Sisanya di Probolinggo.

Dimas Kanjeng yang keturunan Arab-Jawa ini sudah gemar berburu ilmu sejak SMP. Kenakalannya adalah uang SPP yang seharusnya dibayarkan ke sekolah, ia gunakan untuk datang ke orang-orang berilmu. Selepas SMA ia makin gemar berburu ilmu ke tempat yang jauh.

“Salah satu gurunya adalah Kiai Gung Selamet di Sumenep. Gung Selamet adalah cicit dari raja Sumenep Bindoro Saod yang masih keturunan orang pintar dari Batu Ampar, Pamekasan,” ujar Hermanto, tim program Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng.

Dari Gung Selamet lah Dimas Kanjeng kemudian mendapat perintah untuk berguru ke Abah Ilyas di Mojokerto. Dimas Kanjeng bukan yang terpandai saat berguru ke Abah Ilyas. Dimas hanya seorang penurut.

Tahun 1994, Dimas menikahi Rahma Hidayati yang usianya 7 tahun lebih muda. Dari hasil perkawinannya dengan Rahma, Dimas Kanjeng memiliki tiga anak yakni Syarifatul Wahidah yang lahir pada 1995 dan si kembar Radeni dan Raderi yang lahir pada 2001. Dimas mempunyai tiga istri lain. Namun tiga istri tersebut dinikahi secara siri.

Dimas (49), pernah kuliah di Malang, namun drop out. Ia mengaku memiliki ilmu ‘mendatangkan’ uang secara gaib dari gurunya, Kiai (Abah) Ilyas dari Mojokerto yang baru meninggal 10 Juli 2009 lalu. Dimas memperoleh ilmu gaib menggandakan uang dari gurunya itu. Dan hanya beberapa tahun kemudian, pengikut Dimas Kanjeng meningkat drastis dari puluhan menjadi ribuan orang yang disebutnya sebagai santri.

Triliunan uang Dimas yang diperoleh dari mahar (memakai banyak istilah) para santrinya yang ingin menggandakan uangnya menjadi 1.000 kali dari jumlah yang disetorkan itu, menjadikan Dimas mampu memperluas padepokannya di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jatim, hingga menjadi tujuh hektar.

Menurut sejumlah pengikutnya, mereka berguru (nyantri) ke Dimas Kanjeng Taat Pribadi semula bukan karena ingin memiliki ilmu menggandakan uang, tetapi hendak belajar memiliki ilmu gurunya yakni kemampuan menarik barang berharga (emas dan permata) dari dalam tanah. Untuk kegiatan gaib itu, Dimas Kanjeng minta kepada pengikutnya untuk mengumpulkan uang guna membeli minyak gaib.

Dari awalnya berburu benda-benda emas permata dengan memakai minyak gaib itulah kemudian beralih ke penggandaan uang yang lebih dikenal sebagai Bank Gaib. Hanya saja, banyak pengikut awal yang kemudian mundur karena beberapa hal. Di antaranya uang mahar yang digandakan tidak segera terealisasi dan terus diundur-undur. Belakangan para Sultan (pengepul pemberi mahar) mengetahui bahwa uang yang biasanya dipergunakan guru mereka yang kemudian disebut sebagai uang hasil penggandaan secara gaib, didapat dari uang mahar santri lainnya.

Akhirnya Hidayah Ismail (kemudian disusul Abdul Ghani) mengancam Dimas Kanjeng agar segera membayar uang mahar yang mereka setor dari santri-santrinya karena terus-menerus ditagih yang bersangkutan. Karena terus-menerus diberi janji kosong dengan mengulur-ulur waktu ‘panen’ (pencairan uang hasil penggandaan) dan kemudian sering memergoki Dimas Kanjeng jarang Salat Jumat berjamaah dan pengajian yang digelar justru bersifat ilmu klenik, menjadikan Hidayah Ismail memilih keluar. Ia mengaku sudah bersusah payah mengembalikan sebagian uang mahar santri-santri yang direkrutnya sekitar Rp 3,5 miliar dari puluhan miliar yang ia setorkan.

Dan Ismail akhirnya diculik dari rumah tokonya pada awal Februari 2016 dan kemudian mayatnya ditemukan sebagai Mr X di tengah hutan Tegalwono, Situbondo. Nasibnya sama dengan Abdul Ghani.

Populernya padepokan Dimas ini karena menjadi bank gaib dengan cara menggandakan uang. Makanya kemudian padepokan itu dikenal sebagai Padepokan Bank Gaib Dimas Kanjeng.

Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur, Syarifudin Syarif, menegaskan bahwa Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng bukanlah sosok kiai atau ulama. Sedangkan Padepokan Dimas Kanjeng yang diasuh Taat jauh dari kategori pesantren.

Syarif menjelaskan, ilmu yang ditampakkan Dimas kepada pengikutnya sebagai kesaktian bukanlah karomah, tapi istidroj. “Ilmu seperti gendam itu memang ada, tapi bukan karomah. Itu namanya istidroj,” kata Syarif di Kantor NU Jatim di Surabaya, Jawa Timur awal Oktober 2016.

Sedangkan karomah ialah anugerah dari Tuhan yang hanya diberikan kepada waliyullah. “Karomah itu thoriiqul lil ‘aadah ‘alaa yadil walii. Satu hal luar biasa yang dilakukan oleh kekasih Allah. Sedangkan ilmu Dimas Kanjeng ini sejenis ilmu gendam,” kata Syarif.

Menurut Syarif, padepokan Taat yang didatangi ribuan orang itu bukanlah pesantren. “Orang-orang yang datang dan tinggal di sana itu sebagian centeng-centengnya dan sebagian orang yang ingin uangnya digandakan. Jadi itu jauh dari komunitas pesantren,” kata ulama asal Probolinggo itu. darna

  • dari berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here