Kerbau Tuah yang Kini Sudah Tua

0

Mitos — Sepintas tak ada yang spesial dari kerbau yang satu ini,  akan tetapi ketika kita nengetahui sejarah dibalik keberadaannya, ternyata kerbau ini begitu spesial di mata masyarakat  Lantang kecamatan Polongbangkeng Selatan, kabupaten Takalar.

Tuah atau keramat kerbau yang satu ini, hingga pemiliknya yaitu Gallarrang Lantang menggelarinya Tamba Laulung atau lebih dikenal dengan gelaran Cokkoloe yang artinya memiliki tanduk laksana bulan sabit besar.

Dahulu kala di zaman keemasannya kerbau ini,  dipakai untuk upacara besar adat, bahkan karena disakralkannya, kerbau yang sudah beranak pinak ini,  tidak boleh dipakai untuk membajak sawah ataukah melakukan pekerjaan lainnya,  seperti kerbau pada umumnya.

Menurut pemerhati budaya kabupaten Takalar,  Hexa Kurniawan, S.Kom, kerbau yang awalnya memilik tubuh yang sangat besar,  berbeda dengan kerbau pada umumnya itu,  dipelihara oleh Gallarrang Lantang sebagai lambang kemakmuran negerinya, akan tetapi seiring perkembangan zaman keturunan kerbau Cokkoloe menjadi lebih kecil dibanding moyangnya.

“ukuran tubuh kerbau  Cokkoloe, terlihat dari kandangnya yang juga sangat besar” beber Hexa via telepon pada 22/07/2017.

Keturunan kerbau Cokkoloe yang masih tersisa kini juga sudah sangat tua, usianya ditaksir sudah mencapai umur 20 tahun. Walaupun masih dikeramatkan,  namun kerbau itu,  sudah tidak mendiami habitat aslinya di Lantang. Sekarang ini,  kerbau Cokkoloe berpindah didaerah Cakura karena beberapa hal.

Menurut Hexa serta beberapa tokoh masyarakat Lantang, budaya kirab kerbau Cokkoloe yang biasanya digelar yang merupakan agenda tahunan, sudah tidak pernah dilakukan lagi. Ini menjadi isyarat bagi pemerintah daerah agar senantiasa memelihara budaya negeri sendiri. Ditakutkan di masa depan, para generasi muda tidak mengetahui budayanya sendiri,  yang merupakan kearifan lokal bangsa

“Ini warning bagi kita semua agar budaya bangsa kita tidak punah” pungkasnya.