Lukisan Wajah Pemuja Setan

0

Oleh : Arwan

MITOS — Arul sudah mulai patah arang mencari rumah kontrakan yang sesuai dengan koceknya. Maklumlah dia cuma seorang pegawai rendahan di salah satu perusahaan swasta di kotanya. Belum habis penatnya, tiba-tiba telpon genggamnya berdering mengagetkannya. Dari balik telpon genggam tua miliknya, celoteh istrinya Santi tidak berhenti menghujani telinganya yang juga sudah pekak dengan suara klakson truk gandeng yang tidak sabaran meminta laluan.

“Hallo, Bagaimana Pak, sudah dapat maki rumah..?” tanya Santi

“Ededeh, lambasa ta itu mencari, tinggal tiga hari ini rumahta habismi kontraknya tawwa, dar tadi Haji Gassing nelpon terusmi, adami bede yang mau ambilki ini rumah” berondong Santi tanpa henti.

“Iye, banyakji kudapat, tapi mahal semuaki, Ma..”jawabnya tanpa asa.

“Pokoknya, saya tidak mau tahu, mau mahal kek, mau murah kek, yang penting dapatki sekarang” balasnya ketus.

“Iye, Insha Allah, kuusahakanji” jawabnys lagi.

“Pokoknya, jangan maki pulang, kalo tidak dapatki kontrakan” ancamnya, sembari menutup telepon androidnya yang juga cicilannya belum kelar.

Arul kemudian kembali menstater motornya melanjutkan misi pencarian rumah kontrakan. Teriknya sang surya serta debu yang berterbangan, tidak dipedulikan lagi. Tujuannya cuma satu, dia harus mendapatkan rumah kontrakkan hari itu juga. Tak terasa adzan Ashar berkumandang, terkesiap ia.

“Wadduh, Sudah Ashar belum juga dapat rumah” membatin dia kemudian mengambil HP di saku celananya untuk melihat jam. Tiba-tiba ia merasa haus serta lapar, baru disadarinya, sejak pagi belum ada sesuatu yang masuk ke perutnya. Matanta kemudian tertuju kesalah satu gerobak es, tak jauh dari tempatnya berteduh. Dengan cekatan atau karena insting mahluk hidupnya dia memutar motornya laksana adegan freestyles yang biasa ditontonya, menuju gerovak es yang pelanggannya lumayan banyak.

“Mas, es pisang ijo ta satu” pinta Arul. Dia sengaja nenesan es seperti itu agar rasa haus dan laparnya dapat terobati sekaligus.

Belum sempat dia menghabiskan esnya, tiba-tiba dua nelihat papan tua yang tulisannya mulai kabur bertuliskan “Rumah DiKontrakkan”. Setelah membayar, dia kemudian mendekati tulisan itu, dibagian bawahnya tertera tulisan 20 meter kearah timur. Dia kemudian mengikuti arah panah itu, dengan nemasuki gang yang cukup sempit, akhirnya dia tiba didepan rumah itu. Tampaklah sebuah rumah yang masih memakai arsitektur peninggalan Belanda, namun nampak masih sangat terawat baik. Setelah bertanya sana sini, akhirnya dia nenemukan pemilik rumah dan setelah bertanya nilai kontrak, cukup kaget dia karena nilainya cukup murah untuk runah sebesar itu.

Santi begitu senang dengan rumah kontrakan barunya, dikarenakan perabotan yang dia beli dapat terpajang semua disitu.

“Moga-moga ada rezeki, sekalian rumah ini kita beli saja yah, Pak” ucapnya senang dengan sesekali menyeka debu pada lukisan tua yang ada dirunah itu.

“Aamiin” jawab Arul..

“Pa.., ini lukisan biarmi tetap disini deh, antikki kelihatan tawwa” tanya Santi kepada Arul, sembari memandangi lukisan seorang lelaki yang wajahnya seperti seorang Meneer Belanda memakai jubah dengan kedua tanggannya menggenggam tongkat. Dagu sang Meneer bertumpu diatas kedua tangannya yang memegang tongkat. Pada tongkatnya tergurat semu gambar kepala hewan yang bertanduk besar seperti seekor kambing.

Mendengar pertanyaan istrinya, Arul mengiyakan dengan memberikan tanda jempol pada jarinya. Pikirnya, yabg penting istrinya senang dia juga sudah merasa puas. Mereka begitu senangnya hingga mereka melupakan rasa capek sehabis membersihkan runah. Kedua asyik bercengkrama hingga malam tiba. Berduanya bergumul laksana pengantin baru yang mendapatkan bonus Honey Moon di kamar President Suite hotel bintang lima yang biasa mereka buka di aplikasi pemesanan hotel pada smartphone istrinya.

“San…. San… Bangunki..” kata Arul tergopoh gopoh bangun dari tidurnya sambil menggoyang goyangkan tubuh istrinya.

“Hmmm, hmm, kenapa ki, Pa… Masih ngantukka kodong” balasnya malas lalu menarik selimut menutupi tubuhnya yang telanjang.

“Bangunki dulu, sayang,…! ”

“Tidak sadarki kenapaki bisa tidur dluar, padahal tadi malam di kamar jaki” ucapnya agak heran.

“Masa,..!!” jawabnya, kemudian terbangun lalu celingak celinguk melihat sekelilingnya.

“Hahahahahaha, bodohnya ini sayangku deh” tiba-tiba Santi tertawa cekikikan manja melihat kearah Arul. Arul malah bertambah heran dengan kelakuan istrinya.

“Maksudta itu apa ?” tanya Arul penuh keheranan.

“Hahahahaha, makanya kalo bernafsuki, kontrolki, kenapa kita lupa semalam, kita seperti banteng liar mengobrak abrik. Liat maki, badanku baret-baret kita cakar semalam,hhhhhaa” jawab Santi menertawai kebingungan suaminya, sembari menyeka wajah suaminya dengan tangan manja.

Belum habis keheranan Arul, dia semakin dikejutkan, melihat keadaan kamarnya yang begitu rapi seakan tak pernah ditiduri. Dia berusaha mengingat-ingat kejadian semalam, dia mencumbui istrinya biasa-biasa saja seperti hari-hari sebelumnya.

“Kenapa ada baret ditubuh istrinya?, padahal kukunya baru saja dipotong” batinnya.

“Apa yang terjadi semalam ?” tanyanya dalam hati.

Didalam kebingungannya. Tiba-tiba dia dikagetkan dengan lemparan handuk oleh istrinya yang mengenai wajahnya.

“Srett.. ., pergi maki mandi sayang, nanti terlambatki kerja” tegur istrinya manja.

Bulan berganti bulan, semenjak mereka mendiami rumah itu, kebutuhan ekonomi keluarganya berangsur membaik dan bisa dikatakan berlebihan. Padahal gaji Arul masih seperti itu, cuma bertambah apabila dia lembur hingga malam hari. Ini nembuat Arul merasa heran, karena segala makanan enak tersaji, segala barang mewah terbeli bahkan segala perhiasan mewahpun dibelinya. Setiap Arul bertanya tentang hal itu, Santi menjawabnya dari hasil jual beli online.

Hari itu, Arul seperti biasanya mengambil lembur. Namun pada malam itu, tidak seperti biasanya, hatinya begitu galau dan terasa hampa. Entah mengapa perasaannya seperti itu, padahal pelayanan istrinya cukup baik. Namun mengapa dia begitu gelisah, karena perasaannya terus berkecamuk, maka dia memutuskan untuk pulang kerumah.

Diperjalanan, dia masih merasakan hal yang sama, bahkan semakin dekat kerumahnya, hatinya bertambah galau, seakan akan ada yang terbang dari dirinya. Ketika tiba dirumahnya, Arul tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, akan tetapi jantungnya berdegup keras.

“Dag..dig..dug…., ” rasa Arul memegang dadanya.

Arul masuk menjehakkan kakinya diteras depan rumahnya, dia jemudian merogoh saku celananya untuk mencari kunci rumahnya. Belum sempat membuka pintu, sejurus kemudian, dibalik jendela matanya melihat jelas, sesosok lelaki berperawakan tinggi memajai jubah dan memegang tongkat. Jubah yang dpakainya, berwarna hitam serta sisi bagian dalamnya berwarna merah darah. Sosok itu sangat mirip dengan yang ada dilukisan itu.

Tiba-tiba pintu dihadapan Arul terbuka lebar, dan sekonyong-konyong tubuh terasa ringan terayun masuk kedalam. Arul tak dapat bergerak, hatinya berontak, jiwanya melawan, tapi raganya tak sanggup berbuat, laksana mati tak bertulang. Matanya, terasa ingin ditutup, namu kelopaknya seakan terpaku menyaksikan semua itu.

Tiba-tiba dari dalam kamar, keluar wajah yang sangat dikenalinya, dia dikawal oleh dua wanita yang berpakaian minim. Wajah Santi malam itu, sangat cantik, dia memakai baju panjang hitam yang sangat tipis, sehingga nampak lekuk tubuhnya. Didalam kamar dipenuhi dengan lilin dan dari balik dinding, tampak lukisan bintang Pentagram yang dilukis menggunakan tinta dari darah. Di sekelilingnya, ada sekitar empat buah kepala kambing yang dibuat sedemikian rupa hingga nampak lebih sangar dari perawakan ternak kambing yang biasanya. Arul terkesiap melihat semua itu, matanya nanar menatap kemata Santi, seakan-akan bertanya, ada apa dengan semua ini. Arul ingin teriak tapi kerongkongannya tercekak, seperti ada yang menyumbat, sehingga dia tak dapat berucap walaupun hanya sepatah kata.

Belum habis rasa herannya, Santi kemudian menghampirinya dan berucap tegas dan mantap.

“Pa.., maafkan aku, malam ini kamu bukan suami saya lagi, saya telah memilih jalan hidupku, kecuali kamu mau ikut bersamaku” ucapnya.

“Selama ini, aku tak menyembah Tuhanmu lagi, aku telah menyembah tuhanku Lucifer yang agung, dia memberikan segala keinginanku, tidak seperti Tuhanmu yang tak bisa memberikan aku apa-apa, kecuali kesengsaraan”dakwahnya kepada Arul.

Arul mulai memiliki nyali, dia berusaha memberontak menggerakkan kedua tangannya walaupun masih tak berdaya.

“Ja..ja..ngan ko…bo..doh…San..tiii” jawabnya terbata-bata.

Di dalam kesulitannya, Arul teringat akan tindakannya selama ini, yang jauh dari jalan Tuhan. Padahal sebelum dia menikah, dia begitu rajin beribadah. Dia kemudian mulai mengingat doa-doa pengusir setan yang pernah dihapalnya. Namun apa lacur, tak sebait doapun yang mampu dia bisa rapalkan. Hanya ingatan kepada Tuhannyalah sehingga dia tidak larut dalam permainan sihir para pemuja setan.

Tak lama kemudian, ritual penyembahan dimulai, dipimpin oleh lelaki dalam lukisan yang bertindak sebagai pendeta. Dia membimbing Santi merapalkan kalimat-kalimat yang tak dipahami oleh orang pada umumnya. Tiba-tiba dari tengah bintang pentagram keluar api menyala yang menyerupai sesosok mahluk yang mengerikan. Wajahnya yang dipenuhi api menyala seperti berwujud kelelawar raksasa yang apabila menyeringai tersembul sepasang taring yang sangat panjang. Lidahnya panjang bercabang seperti lidah ular, dan dia memakai jubah yang juga terbuat seperti api. Kemunculan sosok itu, serta merta membuat sang pendeta bersujud, hal ini diikuti pula oleh Santi beserta kedua pengawal wanitanya.

Arul dengan semangat serta keimanan yang tersisa berteriak sekeras-kerasnya, “Allahu Akbar”. Bersamaan dengan ucapan itu, dia kemudian terlepas dari kekakuan tubuhnya.

Dia kemudian melompat ingin meraih Santi, istrinya yang masih dia sayangi.

“Santii…….!!!” teriak Arul hendak meraih pundak Santi yang masih bersujud.

Belum sempat tangan Arul meraih pundak Santi, sekonyong-konyong muncul asap hitam menggumpal yang sangat menyengat. Sebaris kemudian, bersamaan memudarnya asap hitam itu, lenyap pula tubuh Santi serta pendeta pemandunya. Gambar-gambar yang ada didinding juga lenyap tanpa bekas, seperti tak pernah terjadi apa-apa ditempat itu.

Belum habis rasa takut yang menimpa Arul, tiba-tiba adzan Subuh berkumandang di masjid-masjid. Kesadaran Arul tergerak, dia menangis sejadi-jadinya. Tangisannya kali ini, bukan karena kehilangan istrinya, akan tetapi karena selama ini meninggalkan Tuhannya untuk memenuhi keinginan istrinya yang tak pernah puas.

“Ampuni aku Yaa Allah” tobatnya..

“Maafkan segala dosaku, Yaa.. Allah” doanya seraya bersujud.

Arul kemudian larut dalam ibadah kepada Tuhannya. Tekadnya hanya ampunan yang dia mohonkan.

Setelah kejadian semalam, Arul kemudian berniat meninggalkan tempat itu dengan seluruh isinya dia sedekahkan. Hanya dengan beberapa potong kain saja Arul berencana mengabdikan dirinya kepada Tuhannya. Sebelum meninggalkan rumah, Arul sempat nemandangi lukisan itu, nampak lukisan itu agak berubah. Sosok lelaki yang berjubah, senyumnya nampak merekah. Disisi belakang sosok itu, nampak seraut wajah wanita yang sangat disayanginya memakai jubah hitam berjalan membelakangi sosok utama lukisan, seraya menoleh. “Tak salah lagi, itu Santi” pikir Arul seraya berlalu.

Baca Juga : Misteri Kapal Hantu di Laut Antartika